Artikel
Kuasa Kebangkitan Yesus PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Freddy Rasdianta   
Sabtu, 28 April 2012 23:15

 

Nats: Yohanes 11:25

Paskah merupakan peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan Kristen. Memang tanpa Natal tidak mungkin ada kekristenan di muka bumi ini sebab Yesus tidak lahir. Demikian pula halnya dengan Kristus yang tidak naik ke Surga, maka tentu tidak akan ada Hari Pentakosta yang akhirnya melahirkan gereja mula-mula. Bahkan juga tidak akan ada Petrus yang berkhotbah dan membuat 3000 orang bertobat. Semua kejadian-kejadian tersebut adalah penting, namun di antara semuanya itu Kebangkitan Kristus merupakan momen yang terpenting sebab menjadikan Kekristenan berbeda dari semua agama lain yang ada di muka bumi ini. 

Semua nabi di dunia lahir, hidup dan mati. Hanya Yesuslah yang bangkit dan menyatakan diri-Nya bahwa Ia bukanlah manusia biasa melainkan Allah sendiri. Kebangkitan Yesus merupakan klimaks dari pengajaran kekristenan. Karena itu seharusnya setiap orang Kristen akan lebih mengutamakan Kebangkitan Kristus (Paskah) daripada Kelahiran Yesus (Natal). Namun yang kita jumpai saat ini justru berbalik, banyak dari umat Tuhan justru lebih merayakan Natal daripada Paskah. Cobalah kita perhatikan bagaimana persiapan banyak orang dalam Natal? Panitia dibentuk, Gereja penuh dekorasi, Paduan Suara berlatih berbulan-bulan lamanya, ada acara meriah dengan drama, bahkan tidak ketinggalan mengundang artis terkenal dari ibukota, apalagi bagian konsumsi yang mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah. Ada banyak gereja mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk sebuah acara Natal, bahkan ada yang hingga mengeluarkan dana sebesar Rp. 150.000.000,- untuk momen beberapa jam saja. Nah sekarang bagaimana dengan Paskah?

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 29 April 2012 08:14
 
Persekutuan Yang Benar PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Freddy Rasdianta   
Minggu, 18 Maret 2012 16:10

 Nats: KPR 20:7-12

Persekutuan berbicara mengenai sekumpulan orang yang berkumpul untuk merumuskan atau merindukan suatu tujuan yang sama. Dalam hal ini Allah ingin agar kita bersekutu di dalam Dia.

Dalam nats ini kita melihat antusias yang begitu luar biasa dari jemaat mula-mula dalam merindukan perhimpunan di dalam Dia. Pribadi Paulus yang meskipun hendak berangkat ke kota lain keesokan harinya, namun tetap semangat memberitakan firman (bersekutu) bahkan hingga pagi hari. Ataupun jemaat yang menggunakan kesempatan tersebut untuk berkumpul meskipun ada yang terkantuk dan terjatuh. Mereka tidak terlalu peduli apa yang akan terjadi dan juga bisnis yang harus dijalani keesokan harinya. Bagi mereka ini adalah kesempatan untuk berkumpul dan menerima berkat kemuliaan-Nya yang tidak boleh dilewatkan sedikitpun juga.

Rasa lapar dan haus untuk berkumpul dan menerima hadirat-Nya memang telah terbentuk semenjak Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya, namun itu semua tidaklah surut setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Mereka justru semakin bergairah untuk bersekutu saat Roh Kudus dicurahkan di atas setiap murid-Nya pada KPR 2. Firman-Nya menyatakan bahwa “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan (KPR 2:42). Ada rasa lapar dan kehausan akan Allah yang begitu kuat berbicara dalam setiap orang yang tidak dapat dipuaskan oleh apapun juga selain oleh Allah sendiri. Suatu kondisi rohani yang selalu terjaga dan tidak pernah tertidur untuk menantikan curahan Roh Kudus-Nya.

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 19 Maret 2012 05:49
 
Spritual Versus Keadilan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Andereas Dermawan   
Sabtu, 28 Januari 2012 09:54

Artikel kali ini mengangkat judul yang sangat penting untuk diketahui semua orang khususnya bagi orang-orang kristen yang mengaku dirinya sebagai Pengikut Kristus. Pada topik di atas ada 2 kata yakni kata “SPRITUALITAS“ dan kata “KEADILAN”. Apakah makna dari masing masing kata-kata itu?

Kebanyakan orang Kristen sangat akrab dan sering mendengar kedua kata ini baik melalui bacaan buku-buku rohani maupun melalui khobah yang disampaikan oleh para pengkhobah di gereja mereka. Namun sayangnya tidak banyak yang memahami arti dari kedua kata tersebut. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kata spritualitas diterjemahkan sebagai “ KEROHANIAN”. Berbicara masalah kerohanian orang tidak lepas dari konteks agama, apapun agamanya, karena bahasan utamanya adalah KEROHANIAN. Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan keagamaan adalah orang-orang yang terlibat sebagai pelaku spritualitas. Sebagai wadah untuk menjalankan kegiatan/ritual keagamaan maka manusia mendirikan lembaga keagamaan. Dan mulailah terbentuk hirarki, ada pemimpin agama dan ada jemaat/pengikut dari lembaga keagamaan itu. Hirarki keagamaan ini mulai terbentuk setelah Musa diangkat sebagai pemimpin umat Israel dan sampai zaman penggenapan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang menutup hirarki keagamaan itu. Namun pada realitasnya hirarki keagamaan sama sekali belum dilepas dari zaman Tuhan Yesus bahkan sampai pada zaman sekarang ini. Tradisi ritual keagamaan yang lama tetap dilestarikan sampai saat ini. Padahal kedatangan Tuhan Yesus menutup tradisi keagamaan yang lama pada suatu cara hidup baru yang diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri. Orang-orang yang memimpin kegiatan spiritual disebut sebagai pemimpin spiritual atau sederhanya disebut sebagai pemimpin agama atau disebut juga Imam dan Imam besar berdasar hirarkinya. Sebutan pemimpin agama pada agama Kristen yang biasa kita kenal adalah sebutan pastor, pendeta, romo, dsb. Yang masing-masing dinaungi oleh sinagoge pada istilah di zaman dulu dan di zaman sekarang adalah dengan sebutan sinode. Dan dari para imam-iman ini dipilih secara bergilir siapa yang menjadi pemimpin sinagoge/sinode dengan sebutan IMAM BESAR. Tradisi hirarki keagamaan dengan berbagai sebutannya dan cara ritualnya tetap masih berlangsung sampai saat ini. Mengapa tradisi ritual ini masih berlangsung? Baiklah untuk menjelaskannya marilah kita bahas satu persatu dari 2 kata di atas yakni kata “SPRITUALITAS” dan kata “KEADILAN“.

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 31 Januari 2012 08:49
 
Mammonisasi Ala Imam Vs Sikap Yesus Terhadap Mammon PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Andereas Dermawan   
Selasa, 25 Oktober 2011 06:41

Nats : Lukas 16:1–9; Matius 6:24

Topik Artikel kali ini mungkin mengejutkan anda. Karena bagi orang Kristen kata Mammon bukanlah hal yang asing. Para pemimpin Agama mungkin beribu-ribu kali mengkhotbahkan dan mengajarkan bahwa harus memiliki sikap yang benar terhadap MAMMON! Tapi sayangnya antara yang dikhotbahkan dengan kenyataan hidup mereka sehari hari sangatlah berlawanan dengan substansi ajaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Mereka juga mengajarkan agar tidak memberhalakan Mammon, dan dengan piawai mereka juga mengutip ayat ayat Alkitab dan juga mengutip ucapan ucapan Yesus dan sangat ahli dalam mentafsirkan dan memutar balikan ucapan harafiah Yesus, dengan tafsiran tafsiran yang mereka anggap logis menurut aspirasi mereka dan orang orang kaya di dunia ini. Dan jualan mereka memang sangat laku untuk dijual. Ajaran mereka dianggap populer, cerdas karena memenuhi selera orang orang kaya di dunia ini. Dan dunia memberi gelar yang terhormat pada para IMAM, karena tahu persis apa yang diinginkan manusia. Semakin tinggi gelar kehormatan dan sederet title akademis semakin tinggi pula tingkat kepercayaan orang orang Kristen terhadap para Imam Imam tersebut. Seiring dengan penghormatan dan pujian yang mereka terima, maka orang orang kaya dengan semangat memberikan reward berupa kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Dan yang sangat memperihatinkan bahwa tindakan tindakan mereka yang melawan perintah Kristus ini dianggap melayani Tuhan, dan dianggap wajar kalau mereka menerima berkat kelimpahan.

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 07 Februari 2012 18:24
 
Doa: Senjata Strategis Mencapai Suku-Suku yang Belum Terjangkau PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Freddy Rasdianta   
Minggu, 09 Oktober 2011 06:11

Allah Menginginkan dan Mendorong Doa Syafaat Bagi Pelaksanaan Maksud Penyelamatan-Nya untuk Manusia di Bumi

Yesus mengajarkan kita berdoa, "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Abraham bersyafaat bagi Lot di Sodom, Musa berdoa agar Allah mengalihkan murka-Nya terhadap Israel, Daniel berdoa bagi pengembalian bangsa Israel dari Babel. Mengapa Allah menginginkan dan memerlukan doa syafaat umat-Nya? Pada mulanya Allah memberi manusia wewenang untuk memerintah bumi, sedangkan wewenang untuk memerintah yang dimiliki Setan, dicapai melalui pemberontakan melawan Sang Pencipta, merupakan wewenang untuk memerintah yang palsu, yang tidak sah, dan yang direbut. Melalui kebangkitan-Nya, kita dapat mendayagunakan hak yang diberikan Allah kepada kita -- doa syafaat, agar kehendak-Nya terlaksana dan kerajaan-Nya datang di bumi. Berdoa dalam kuasa Roh Kudus menerobos wewenang musuh, meratakan jalan bagi Dia untuk menyelamatkan semua orang, dan ikut ambil bagian dalam pelaksanaan maksud penebusan-Nya.

Awal tahun 1998, Allah menuntun Dick Eastman membentuk satu tim doa syafaat di setiap bagian Eropa Timur. Tugas mereka ialah "menghadapi benteng-benteng Komunisme". Mereka "berjalan sambil berdoa" di seputar bangunan Politbiro di Bukarest. Dua tahun kemudian, Ceaucescu, yang sebelumnya dengan bangga mengatakan rezimnya akan bertahan seribu tahun lagi, akhirnya runtuh. Di Berlin, pada tengah malam, Allah menuntun Dick dan seorang teman Jermannya berdoa untuk tembok Berlin. Mereka berdua meletakkan tangan di tembok lalu berdoa, "Dalam nama Yesus, runtuhlah!" Dalam peristiwa-peristiwa dramatis tahun lalu di Eropa Timur, Allah telah menggunakan doa umat-Nya untuk menggoncangkan bangsa-bangsa. Dia juga dapat berbuat hal yang sama untuk dunia yang belum terjangkau. Ia sedang mencari mereka yang akan berdiri di hadapan-Nya untuk 2000 kelompok suku-suku yang belum terjangkau, 1000 kota, dan 30 negara yang belum terinjili (Yehezkiel 22:30).

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 09 Oktober 2011 06:23
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 2

Login Form